Manajemen laba adalah perilaku atau tindakan yang dilakukan oleh manajer untuk memanipulasi data atau informasi akuntansi agar jumlah laba yang tercatat dalam laporan keuangan menjadi baik.
Manajemen laba dilakukan untuk mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan dan hasil perjanjian kontrak yang didasarkan pada besarnya laba. Salah satu pemangku kepentingan tersebut adalah para pemegang saham terkait keputusan pemberian kompensasi bagi manajer.
Manajemen laba dilakukan dengan memanfaatkan komponen akrual yang discretionary untuk menentukan besar kecilnya laba yang disediakan oleh standar akuntansi. Upaya ini diakui dan diperbolehkan dalam standar akuntansi selama apa yang dilakukan perusahaan diungkapkan secara jelas dalam laporan keuangan.
Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa.
Berikut ini beberapa pengertian manajemen laba dari beberapa sumber buku:
- Menurut Sulistyanto (2008), manajemen laba adalah upaya manajer perusahaan untuk mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan.
- Menurut Silaban dan Siallagan (2012), manajemen laba merupakan campur tangan manajemen dalam penyusunan dan pelaporan laporan keuangan perusahaan untuk mencapai tingkat laba tertentu.
- Menurut Fahmi (2014), manajemen laba adalah suatu tindakan yang mengatur laba sesuai dengan yang dikehendaki oleh pihak tertentu atau terutama oleh manajemen perusahaan (company management).
- Menurut Setiawati dan Saputro (2004), manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal guna mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri (atau perusahaannya sendiri).
- Menurut Assih dan Gundono (2000), manajemen laba merupakan suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Accepted Accounting Pincipples (GAAP) untuk mengarah pada suatu tingkat yang diinginkan atas laba yang dilaporkan.
Bentuk dan Pola Manajemen Laba
Menurut Scott (2003), terdapat lima bentuk manajemen laba, yaitu sebagai berikut:a. Taking a bath
Disebut juga big baths, bisa terjadi selama periode dimana terjadi tekanan dalam organisasi atau terjadi reorganisasi, misalnya penggantian direksi. Jika teknik ini digunakan maka biaya-biaya yang ada pada periode yang akan datang diakui pada periode berjalan. Ini dilakukan jika kondisi yang tidak menguntungkan tidak bisa dihindari. Akibatnya, laba pada periode yang akan datang menjadi tinggi meskipun kondisi tidak menguntungkan.
b. Income minimization
Pola meminimumkan laba mungkin dilakukan karena motif politik atau motif meminimunkan pajak. Cara ini dilakukan pada saat perusahaan memperoleh profitabilitas yang tinggi dengan tujuan agar tidak mendapat perhatian secara politis. Kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan (write off) atas barang-barang modal dan aktiva tak berwujud, pembebanan pengeluaran iklan, riset, dan pengembangan yang cepat.
c. Income maximization
Maksimalkan laba bertujuan untuk memperoleh bonus yang lebih besar, selain itu tindakan ini juga bisa dilakukan untuk menghindari pelanggaran atas kontrak utang jangka panjang (debt covenant).
d. Income smoothing
Perusahaan umumnya lebih memilih untuk melaporkan trend pertumbuhan laba yang stabil daripada menunjukkan perubahan laba yang meningkat atau menurun secara drastis.
e. Timing Revenue dan Expenses Recognation
Teknik ini dilakukan dengan membuat kebijakan tertentu yang berkaitan dengan timing suatu transaksi, misalnya pengakuan premature atas pendapatan.
Sedangkan menurut Sulistyanto (2008), terdapat tiga pola dalam manajemen laba, yaitu sebagai berikut:
a. Penaikkan Laba (Income Increasing)
Pola penaikkan laba (income increasing) merupakan upaya perusahaan mengatur agar laba periode berjalan menjadi lebih tinggi daripada laba sesungguhnya. Upaya ini dilakukan dengan mempermainkan pendapatan periode berjalan menjadi lebih tinggi daripada pendapatan sesungguhnya dan atau biaya periode berjalan menjadi lebih rendah dari biaya sesungguhnya.
b. Penurunan Laba (Income Descreasing)
Pola penurunan laba (income descreasing) merupakan upaya perusahaan mengatur agar laba periode berjalan menjadi lebih rendah daripada laba sesungguhnya. Upaya ini dilakukan dengan mempermainkan pendapatan periode berjalan menjadi lebih rendah daripada pendapatan sesungguhnya dan atau biaya periode berjalan menjadi lebih tinggi dari biaya sesungguhnya.
c. Perataan Laba (Income Smoothing)
Pola perataan laba (income smoothing) merupakan upaya perusahaan mengatur agar labanya relatif sama selama beberapa periode. Upaya ini dilakukan dengan mempermainkan pendapatan dan biaya periode berjalan menjadi lebih tinggi atau lebih rendah daripada pendapatan atau biaya sesungguhnya.
Baca juga : Mengenal Manajemen Laba - Lanjutan
